Install this webapp on your device: tap and then Add to homescreen.

Perkantas Newsletter

Agustus-September 2020

Shalom,

James Lane Allen (1849-1925), seorang novelis berkebangsaan Amerika, pernah menuliskan, "Adversity does not build character, it reveals it." Kesulitan atau kemalangan tidak membangun karakter, melainkan menyingkapkannya. Artinya, bagaimana seorang individu menanggapi kesengsaraan yang menimpanya menunjukkan karakter sejatinya--apakah dia menyerah, berusaha mengatasi dengan "terpaksa" melakukan kejahatan, ataukah tetap berjuang mengatasi kondisi sulit yang dihadapi tanpa kehilangan integritas?

Sejak awal pelayanannya, integritas merupakan salah satu karakter utama yang ditanamkan oleh Perkantas kepada kaum terdidik--siswa, mahasiswa, dan alumni. Dan, integritaslah yang akan banyak diuji dalam masa-masa sulit seperti pandemi ini. Seorang alumni mengisahkan, bagaimana rekan kerjanya mengikuti hingga empat webinar dalam waktu bersamaan hanya untuk mengejar poin atau penilaian kinerja diri. Akankah siswa, mahasiswa, dan alumni binaan Perkantas tetap menjaga diri mereka bersih, tetap belajar dan bekerja dengan jujur dan sungguh-sungguh, meski dilakukan dari rumah?

Kiranya kita dapat berkata kepada dunia, bahwa setiap siswa, mahasiswa, dan alumni yang telah dibina di dalam pelayanan Perkantas adalah pribadi-pribadi yang berintegritas, sama seperti apa yang disampaikan rasul Paulus mengenai kelompok pelayanan mereka pada waktu mengutus Titus dan dua orang lagi kepada jemaat Korintus,

"Kami mau bertindak jujur bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi di hadapan manusia juga" (2 Kor. 8:21).



~Redaksi~

Mengapa Kamu Begitu Takut?

”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk. 4:40).

Mengapa para murid begitu takut dan tidak percaya? Saya tak bermaksud membela mereka. Saya hanya mencoba memahami mengapa para murid begitu takut sehingga tidak percaya, dan berkata, ”Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Mrk. 4:38).

Pertama, mereka begitu takut karena berada dalam keadaan, meminjam istilah Shakespeare, to be or not to be ’hidup atau mati’. Sebab meskipun sebagian dari antara mereka adalah pelaut andal, mereka paham tak akan ada orang yang selamat diterpa taufan macam begitu. Sehingga kata ”binasa” itulah yang melekat dalam benak mereka.

Kedua, mungkin mereka frustrasi karena sebenarnya mereka hanya mematuhi kehendak Yesus. Penginjil Markus mencatat: ”Pada hari itu waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ’Marilah kita bertolak ke seberang’” (Mrk. 4:35). Jikalau Sang Guru tidak menyuruh, tentulah mereka masih di darat. Sebenarnya mereka hanya ingin menyenangkan hati Sang Guru.

Ketiga, Yesus bersama mereka dalam perahu itu, tetapi taufan tetap ada. Selama ini mereka menganggap Yesus adalah jagoan mereka. Yesus sanggup membuat banyak mukjizat. Dan mereka merasa aman dan nyaman bersama dengan Yesus. Hanya persoalannya—di perahu itu—meskipun mereka bersama Yesus, mereka masih merasakan taufan, dan perahu itu pun mulai penuh dengan air.

Keempat, ini mungkin yang membuat mereka menjadi semakin bingung hingga tidak percaya, Yesus tampaknya tidak memedulikan nasib mereka. Di sinilah puncak ketakutan mereka. Di tengah prahara mereka melihat Sang Guru tidur. Mungkin perasaan mereka agak sedikit tenteram kalau mereka melihat Yesus bersama mereka mengeluarkan air dalam perahu itu. Kenyataannya tidak. Yang mereka lihat: Yesus tidur. Tidur mereka artikan sebagai tanda ketidakpedulian.

Suasana global akibat wabah Covid-19 tak beda dengan keadaan para murid. Kita menjadi khawatir akan banyak hal: penyakit, ekonomi, kekacauan, bahkan politik. Namun, sekadar khawatir malah membuat kita makin khawatir.

Tindakan para murid membangunkan Yesus patut diteladani. Mereka melibatkan Sang Guru untuk mengatasi situasi. Dan Yesus mau terlibat karena itu juga persoalan-Nya.

Agaknya, yang tak boleh kita lupakan, Covid-19 juga merupakan persoalan Tuhan. Bagian kita adalah bersama dengan Dia mencari cara untuk tetap bertahan dan kreatif dalam situasi ini. Tetap menjaga semangat kerja—baik di kantor maupun di rumah—sembari terus menjaga kesehatan pribadi dan keluarga merupakan panggilan utama saat ini. 


___________
- Dituliskan oleh Yoel M. Indrasmoro - Direktur Literatur Perkantas Nasional
- Diambil dan disunting dari Seri Embun Pagi di literaturperkantas.net

Winda Sartika Purba: Hikmah dari Wisma Atlet

Sebagai salah satu penyintas COVID-19, Winda menceritakan kisahnya ketika pertama kali mendapati indera penciumannya tak berfungsi hingga hikmah yang didapatnya selama isolasi di Wisma Atlet.

Aris Joko Susilo: Tanpa Tuhan, Semua Sia-Sia

Sebagai pemuda yang penuh ambisi dan cita-cita, Aris merasa dapat melakukan segalanya. Hingga suatu ketika, Tuhan memanggilnya melayani mahasisiwa di Singaraja.

Ayu Hapsari: Digendong dan Dikasihi Tuhan

Ayu lahir dan besar di dalam keluarga hamba Tuhan. Namun demikian, bukan berarti ia hidup tanpa pergumulan. Suatu ketika, Tuhan menjumpainya dalam sebuah KKR di gereja.

Semarang: KATA Siswa 2020

Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, Kebaktian Awal Tahun Ajaran Siswa Semarang tahun 2000 ini diselenggarakan secara daring dan dalam dua kesempatan.

500 Paket Buku bagi Hamba Tuhan di Ambon

Literatur Perkantas mengajak kita semua untuk berbagi paket. buku untuk mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan di Ambon.

Jember: Sarasehan Kebangsaan

Reuni alumni Permaker dan Pelayanan Siswa Jember batal karena pandemi, diganti menjadi Sarasehan Kebangsaan.

PMdN: Majalah Samaritan Edisi II Tahun 2020

Majalah Samaritan edisi ke-2 tahun 2020 telah terbit dan dapat dibaca secara daring. Kiranya memberkati alumni dan profesional medis.

Info Keluarga

Berita Duka

Telah dipanggil ke pangkuan Bapa di sorga,

1. Tiurma Lumbantobing, ibunda dari Ratna Hutabarat (Pengurus BPC Jakarta), pada tanggal 3 Agustus 2020
2. Tumiyem Atmotaruno, ibunda dari Heru Santoso (Staf PT Suluh Cendikia/Literatur Perkantas Nasional), pada tanggal 17 Agustus 2020
3. Tuti H. P. Lumempouw Sumlang, ibunda dari drg. Grace Lumempouw (Pengurus PMdN), pada tanggal 18 Agustus 2020
4. Saut Sihotang, ayahanda dari Fernando Sihotang (Staf BPP Jambi), pada tanggal 22 Agustus 2020

Kiranya Allah Sang Sumber Damai Sejahtera senantiasa melimpahkan penguatan dan penghiburan bagi segenap keluarga yang ditinggalkan.

Ulang Tahun

02 September - Sahala Dolok
03 September - Ricky Kosasih
03 September - Amsa Sitanggang
05 September - Harry Suhadi
08 September - Andreas Kurniady
11 September - Yovita Tobing
11 September - Irwanta Bona Sinaga
12 September - Christian Teo
14 September - Johana Jonathan
14 September - Teguh Santosa
15 September - Edison Tambunan
17 September - Tety Hutapea
20 September - Bambang Wiyanto
22 September - Lucky Salindeho
22 September - Lydia
22 September - Frans Anda Sugih
24 September - Suhana
24 September - Megel
27 September - drg. Shinta
30 September - Edward Watimena
30 September - Hendrata Gunawan

Dukung Pelayanan Perkantas

Puji Tuhan untuk pelayanan Perkantas yang senantiasa dipeliharaNya melalui dukungan dari para sahabat. Kemajuan teknologi finansial kini mempermudah sahabat Perkantas dalam memberikan dukungan untuk pelayanan Perkantas. Salah satunya, melalui aplikasi e-wallet atau dompet digital, seperti m-BCA, OCTO Mobile CIMB NiagaGo-Pay, OVO, DANA, ShopeePay, atau LinkAja. Cukup pindai (scan) QR Code di samping dengan aplikasi dompet digital Anda, isi nominal, tulis pesan, dan konfirmasi.

Dukungan terhadap pelayanan Perkantas (Kantor Nasional, PMdN, GC, kepanitiaan, dsb.) juga dapat disampaikan melalui kanal-kanal finansial lain, seperti transfer bank, kartu debit/kredit, internet banking, dan convenient store.

Ikuti pelayanan Perkantas melalui media sosial:

© 2020 Perkantas