Install this webapp on your device: tap and then Add to homescreen.

Perkantas Newsletter

Maret-April 2022

"Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan,
tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."
(Amsal 1:7)

Shalom,

Meskipun perkembangan teknologi informasi sangat menolong kita dalam berkomunikasi, khususnya selama pandemi, terdapat satu hal yang perlu diwaspadai. Kebiasaan berkomunikasi melalui layar yang sangat terbatas dibandingkan pertemuan tatap muka berpotensi membuat relasi kita menghambar. Gawai seperti telepon pintar juga dapat meningkatkan kecenderungan kita untuk memikirkan kenyamanan diri lebih dari orang lain. Kita terbiasa dilayani dan dimudahkan oleh teknologi. Apabila tak berhati-hati, kita dapat terjerumus ke dalam spiral tak berujung akan pencarian kenyamanan dan kemudahan diri, dan menjadi bagian dari--mengutip judul majalah Time di tahun 2013--"The Me Me Me Generation". 

Ribuan konten yang setiap hari berlomba menarik perhatian kita melalui media sosial dengan pesan-pesan yang tak jarang menggoda kita untuk sedikit mengendurkan tali moralitas membutuhkan kewaspadaan kita. Berdoa dan berjaga-jaga, tak ada resep yang lebih mujarab untuk menghadapinya. Staf Perkantas DIY Johan Andreas Santoso, M. Div. menyoroti salah satu tanda kendurnya moralitas di kalangan mahasiswa masa kini yang tampak dari maraknya jasa pembuatan tugas, penelitian, jurnal, skripsi, dan sebagainya. Tulisan reflektifnya dapat dibaca di bawah judul, "Kembali ke Akar".

Tak hanya studi, dalam pelayanan pun kita juga perlu untuk terus-menerus "kembali ke akar," sehingga meski hidup di tengah dunia yang menawarkan "surga" melalui berbagai kecanggihan teknologinya, kita sebagai murid-murid Kristus tak mudah terperdaya dan diperhamba olehnya. Sebaliknya, kita sungguh-sungguh menjadi pengguna yang bijak, yang sanggup memanfaatkan setiap perangkat dan fasilitas yang ada untuk melayani Tuhan dan sesama dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, kita menunjukkan bakti kita kepada Sang Kristus, yang dua ribu tahun lalu telah memberikan nyawa-Nya, supaya kita yang telah mati dalam dosa, dapat hidup dan melayani Dia. Amin.


~Redaksi~

Kembali ke Akar

“Tugas yang harus diselesaikan terlalu banyak sedangkan waktuku tidak cukup”. “Aku tidak terampil menuliskan pikiranku menjadi sebuah makalah”. “Saya tidak punya cukup waktu untuk membaca sumber-sumber literatur dan tidak tahu bagaimana melakukan penelitian”. “Saya harus menjaga agar nilai mata kuliah saya prima, ini demi masa depan saya”. Beberapa pernyataan di atas sering kali dikutip oleh penyedia jasa pengerjaan tugas kuliah, laporan magang, penulisan makalah, bahkan tugas akhir. Singkatnya, yang mereka tawarkan adalah mengerjakan karya tulis ilmiah bagi orang lain sesuai pesanan topik atau soal. Karya tulis ilmiah itu kemudian akan diakui sebagai karya si pemesan. Sekilas nampak seperti fenomena pasar yang biasa, dimana ada kebutuhan atau permintaan pasar hadirlah penyedia kebutuhan tersebut.

Praktek ini bukan sesuatu yang baru. Sejak beberapa dekade silam, istilah yang lebih dikenal adalah “joki”. Joki ujian, joki skripsi dan lain sebagainya. Konotasi yang terkandung dalam istilah itu negatif, mengindikasikan kecurangan. Meski demikian, hingga hari ini istilah joki masih digunakan dan muncul dalam berbagai tawaran iklan layanan seperti itu. Secara cepat orang bisa mengenali dan mengategorikannya sebagai tindakan yang keliru. Namun, ketika istilahnya menjadi “penyedia jasa”, konotasi negatif itu nampaknya luntur. Sebagai bagian dari upaya promosinya para penyedia jasa tersebut juga bisa ditemui menampilkan video testimoni para pengguna jasa, terlepas dari apakah mereka itu betul-betul pengguna jasanya. Tanpa kehati-hatian, para mahasiswa bisa dengan mudah memiliki persepsi bahwa layanan tersebut memang penting dan bermanfaat bagi mereka; bisa menjadi solusi cepat untuk membentuk citra performa akademik yang menawan.

Mahasiswa perlu waspada akan praktek ini karena sejatinya bisa berpotensi menjerumuskan diri mereka sendiri dan mendatangkan kerugian. Mungkin akan ada yang membuat rasionalisasi, “Di sisi mana kerugiannya dan terjerumusnya kalau mereka bisa mendapat nilai bagus dan tidak terlalu kerepotan karena tugas yang menumpuk? Bukankah dengan demikian mereka jadi punya waktu untuk banyak hal lainnya yang diperlukan untuk membangun portofolio mereka demi siap masuk dunia kerja, seperti bekerja paruh waktu, magang di institusi ternama, atau, mungkin, untuk terlibat dalam pelayanan mahasiswa?”

Namun, pertanyaan-pertanyaan tersebut melewatkan satu hal penting dalam pendidikan. Dalam praktik perjokian, ada bagian yang tidak dijalani sepenuhnya dalam proses belajar. Proses yang dilangkahi akan membuahkan hasil yang tidak matang penuh. Penugasan, proses penelitian, serta penulisan adalah bagian integral dari pendidikan, terutama bagi pendidikan tinggi, untuk memberikan kesempatan bagi peserta didik bergulat dengan topik atau persoalan yang diberikan, untuk melatih keterampilan mengakses dan menggunakan berbagai sumber untuk membentuk cara pandang atau pemikiran sehingga membentuk tawaran solusi yang mungkin diberikan, dan juga untuk mengembangkan kemampuan mengomunikasikan pemikiran dalam rekaman yang terbuka untuk ditanggapi orang lain. Bagaimana Anda membayangkan dampaknya jika hal-hal ini dilangkahi?

Tidak hanya kualitas dan kemampuan yang sifatnya akademik yang berkembang, nilai-nilai moral juga berkembang lewat penugasan, penelitian dan penulisan ilmiah. Sebagai satu contoh saja, kaidah pengutipan karya ilmiah orang lain yang secara serius dilatihkan dan dievaluasi akan membentuk peserta didik untuk menghargai jerih payah orang lain, belajar mengakui bahwa pendapatnya dipengaruhi atau mengikuti orang lain, dan menuntun pada eksplorasi hal-hal berbeda atau baru dari yang telah ada sehingga kreativitas menjadi terasah. Banyak kasus plagiarisme kita dengar, baik yang dilakukan oleh bukan siapa-siapa (baca: mahasiswa) hingga akademisi tersohor, karena kaidah pengutipan tidak ditegakkan.

Kalau pelibatan para “penyedia jasa” ini benar menjadi tren yang makin tumbuh termasuk di kalangan mahasiswa Kristen, maka kita perlu kuatir akan kualitas kognisi dan moral dari para lulusan beberapa tahun mendatang. Hal-hal seperti apa yang akan banyak kita temui di dunia kerja? Apakah peran Perkantas sebagai pembina siswa dan mahasiswa? Kita perlu mendiskusikan topik ini secara terbuka, dengan sikap saling mendengarkan dan terbuka untuk berbagai macam perspektif supaya kompleksitas persoalan ini bisa terwadahi dengan baik. Namun, kita juga perlu kembali kepada hal yang sederhana yang adalah akarnya, yaitu dengan membimbing dan melatih siswa dan mahasiswa untuk tidak berlaku curang dan untuk setia mengikuti proses yang memberikan mereka pertumbuhan. Bukankah Alkitab juga memberi kita pernyataan jelas bahwa “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”?

___________________
Dituliskan oleh Johan Andreas Santoso, Staf BPC DIY 

Pembinaan Board se-Indonesia: Memupuk Sinergi, Mengokohkan Pemuridan

Sinergi dan tata kelola organisasi untuk pengokohan pemuridan menjadi topik perbincangan utama dalam Pembinaan Board Perkantas se-Indonesia yang diselenggarakan secara daring pada hari Sabtu, 19 Maret 2022.

Literatur Nasional: Aksi Paskah untuk Sahabat

Dengan Rp150 ribu, Anda dapat memberikan mulai dari satu paket buku kepada setiap mahasiswa hingga 11 April 2022 melalui nomor rekening BCA 0123025439 (PT Suluh Cendikia). Hingga 28 Maret 2022 buku yang telah terkumpul sejumlah 75 paket buku. Buku akan disalurkan mulai 12 April 2022.

Perkantas Jabar: Rebuild Rumah Persekutuan

Pembangunan kembali (rebuild) rumah persekutuan (ruper) Cipaku Permai 14 masih berlangsung. Doakan dan dukung agar ruper ini memfasilitasi pemuridan di Jabar lebih lagi.

PPMP 2022: Asah Keterampilan Layani Tuhan

Pandemi yang berlangsung di tengah transisi dan akselerasi teknologi digital memunculkan kebutuhan pelayan multimedia yang mumpuni. PPMP 2022 bertujuan untuk memperlengkapi setiap pelayan persekutuan siswa, mahasiswa, dan alumni dalam keterampilan multimedia.

Perkantas Nabire: Terus Mengandalkan Tuhan

Doakan TP3 Nabire dan BPP Jayapura ke depan dalam rencana-rencana besar pelayanan yaitu pengadaan Ruper dan kendaraan mobil operasional guna menunjang pelayanan baik di KPG dan juga di beberapa sekolah lainnya.

Berita Pernikahan

Berita Dukacita

Dukung Pelayanan Perkantas

Puji Tuhan untuk pelayanan Perkantas yang senantiasa dipeliharaNya melalui dukungan dari para sahabat. Kemajuan teknologi finansial kini mempermudah sahabat Perkantas dalam memberikan dukungan untuk pelayanan Perkantas. Salah satunya, melalui aplikasi e-wallet atau dompet digital, seperti m-BCA, OCTO Mobile CIMB NiagaGo-Pay, OVO, DANA, ShopeePay, atau LinkAja. Cukup pindai (scan) QR Code di samping dengan aplikasi dompet digital Anda, isi nominal, tulis pesan, dan konfirmasi.

Dukungan terhadap pelayanan Perkantas (Kantor Nasional, PMdN, GC, kepanitiaan, dsb.) juga dapat disampaikan melalui kanal-kanal finansial lain, seperti transfer bank, kartu debit/kredit, internet banking, dan convenient store.

Ikuti pelayanan Perkantas melalui media sosial:

© 2022 Perkantas